Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku.
Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri?
Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. Tapi, rasanya mustahil untuk bisa terwujud. Toh, Dia juga merencanakan sesuatu yang baik untukku.
Entah kenapa rasanya Idul Fitri tahun ini pula aku benar-benar merasa sepi dan sedih yang sejadi-jadinya. Entah kenapa. Orang tua ada di sisiku, keluarga masih bisa berkumpul, tetangga masih menyapa “Wah kamu udah gede aja, Mas”, bahkan suara kembang api dan riuh anak kecil serta takbir yang menggema rasanya mustahil untuk dibilang sepi.
Ya, aneh memang diriku ini. Tak seperti orang normal kebanyakan. Tapi, ah sudahlah, ini bukan hal penting bagimu bukan?
Waktu seperti ini adalah waktu yang selalu kupakai untuk merenung. Untuk menyendiri. Memikirkan setiap kesalahan diri yang telah diperbuat. Juga untuk memikirkan tentang kita.
Banyak hal yang membuatku selalu merenung dan berpikir. “Ketika kau sudah mengetahui kebenarannya dari awal, kenapa kau masih memilih untuk bertahan? Apa karena kau sudah lama bertahan karenanya? Atau karena ego dalam dirimu?”
“Apa kau pernah berpikir tentang apa yang dia ucapkan? Apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau dia hanya mengucapkan apa yang ingin kau dengar? Bukan sesuatu yang ingin kau tahu?”
Naif rasanya jika aku tak memikirkan perasaanmu, ini adalah saat yang berbahagia untukmu dan untuknya bukan?
Tapi ya sudahlah, kembali ke hakikatnya. Siapalah saya ini? Bukan orang yang penting bukan?
Terkadang aku merasa ingin terlepas dari perasaan seperti ini. Selalu dihantui bayang-bayangmu. Terkadang, ketika ku memikirkanmu, sedih rasanya. Hanya ingin menangis sekuat-kuatnya. Sesak perasaan dalam dada yang berkecamuk. Hanya ingin semua lepas.
Komentar
Posting Komentar