Langsung ke konten utama

Kembali ke hakikatnya

Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku.

Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri?

Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. Tapi, rasanya mustahil untuk bisa terwujud. Toh, Dia juga merencanakan sesuatu yang baik untukku.

Entah kenapa rasanya Idul Fitri tahun ini pula aku benar-benar merasa sepi dan sedih yang sejadi-jadinya. Entah kenapa. Orang tua ada di sisiku, keluarga masih bisa berkumpul, tetangga masih menyapa “Wah kamu udah gede aja, Mas”, bahkan suara kembang api dan riuh anak kecil serta takbir yang menggema rasanya mustahil untuk dibilang sepi.

Ya, aneh memang diriku ini. Tak seperti orang normal kebanyakan. Tapi, ah sudahlah, ini bukan hal penting bagimu bukan?

Waktu seperti ini adalah waktu yang selalu kupakai untuk merenung. Untuk menyendiri. Memikirkan setiap kesalahan diri yang telah diperbuat. Juga untuk memikirkan tentang kita.

Banyak hal yang membuatku selalu merenung dan berpikir. “Ketika kau sudah mengetahui kebenarannya dari awal, kenapa kau masih memilih untuk bertahan? Apa karena kau sudah lama bertahan karenanya? Atau karena ego dalam dirimu?”

“Apa kau pernah berpikir tentang apa yang dia ucapkan? Apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau dia hanya mengucapkan apa yang ingin kau dengar? Bukan sesuatu yang ingin kau tahu?”

Naif rasanya jika aku tak memikirkan perasaanmu, ini adalah saat yang berbahagia untukmu dan untuknya bukan?

Tapi ya sudahlah, kembali ke hakikatnya. Siapalah saya ini? Bukan orang yang penting bukan?

Terkadang aku merasa ingin terlepas dari perasaan seperti ini. Selalu dihantui bayang-bayangmu. Terkadang, ketika ku memikirkanmu, sedih rasanya. Hanya ingin menangis sekuat-kuatnya. Sesak perasaan dalam dada yang berkecamuk. Hanya ingin semua lepas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah aku?

Bolehkah aku bercerita sedikit bagaimana rasanya mencintaimu dengan sederhana? Tidak boleh ya? Baiklah, jika kau yang meminta. Karena kutahu, kau takkan pernah menyukai tulisanku yang sangat sederhana ini. Setidaknya, semoga kau mengerti beberapa hal yang diriku sendiri tak akan paham. Hehe. Kusimpan masa demi masa. Tak mudah tuk terlupa. Awal saat kita bertemu, sudah cukup lama. Lama sekali. Tapi aku masih ingat bagaimana senyum yang terpancar dari wajahmu saat itu. Saat kali pertama kita bertegur sapa, saat kali pertama ku melihat cantiknya dirimu, semuanya masih nampak jelas dalam memoriku yang sangat terbatas ini. Saat itu, kita memang belum saling mengenal. Memang, lagipula untuk apa kau mengenal makhluk sepertiku. Tidak jelas dan tak ada apa-apanya. Penampilanku yang hina ini memang tak akan pernah membuatmu suka. Apalagi untuk sekedar membuatmu tersenyum meski sedikit. Persetan dengan semua itu. Yang jelas saat itu, aku baru percaya pada cerita Jaka Tarub dan 7 b...

Mimpi Indahku

Ada suatu waktu di mana setiap mentari terbit mengartikan sebagai hari yang cerah Namun ketika mentari pagi menyambut dengan jingga kekuningannya membuatku terbangun dari alam mimpiku Ku bersyukur pada-Nya atas hidup dan cinta serta langit keemasan untukku Kini ku berdoa semoga bintang-bintang bersinar cerah malam ini Kulihat dirimu dalam mimpiku dan mencintaiku Andai saja aku bisa terlelap malam ini setidaknya aku mampu berpura-pura kau mencintaiku Karena saat bintang-bintang bertebaran adalah saat yang membuatku bahagia Kau ada dalam mimpiku Ku tetap berharap Ketika ku terbangun dari mimpi indahku kau berbaring di sisiku menemaniku dalam mimpi indah bersamamu Dan melayangkan sebuah kecupan Kau membuatku hidup kembali -Pecinta kereta- Kota Satria, 2017