Langsung ke konten utama

Bolehkah aku?

Bolehkah aku bercerita sedikit bagaimana rasanya mencintaimu dengan sederhana?
Tidak boleh ya? Baiklah, jika kau yang meminta.
Karena kutahu, kau takkan pernah menyukai tulisanku yang sangat sederhana ini.
Setidaknya, semoga kau mengerti beberapa hal yang diriku sendiri tak akan paham. Hehe.

Kusimpan masa demi masa. Tak mudah tuk terlupa.

Awal saat kita bertemu, sudah cukup lama. Lama sekali.
Tapi aku masih ingat bagaimana senyum yang terpancar dari wajahmu saat itu.
Saat kali pertama kita bertegur sapa, saat kali pertama ku melihat cantiknya dirimu, semuanya masih nampak jelas dalam memoriku yang sangat terbatas ini.

Saat itu, kita memang belum saling mengenal.
Memang, lagipula untuk apa kau mengenal makhluk sepertiku.
Tidak jelas dan tak ada apa-apanya.
Penampilanku yang hina ini memang tak akan pernah membuatmu suka.
Apalagi untuk sekedar membuatmu tersenyum meski sedikit.
Persetan dengan semua itu. Yang jelas saat itu, aku baru percaya pada cerita Jaka Tarub dan 7 bidadari. Bahwa bidadari itu benar adanya. Dan itu kau.
Gombal kan keliatannya? Tapi serius, ini ngga kok.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah semester pertama kujalani kuliah dengan sangat membosankan. Masuk semester kedua ini, ku merasa ada yang berbeda. Bisa dipertemukan dalam sebuah kepanitiaan acara. Ah, tapi aku masih malu membicarakannya hehe.

Tapi, pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan. Bukan juga sebuah rencana. Mengalir apa adanya.
Dan kiranya, awal mula pertemuan kita menjadi suatu masalah yang cukup rumit.

Bulan Mei adalah bulan kelima. Dan itu adalah saat yang paling kuingat. Bagaimana tidak? Seseorang yang selama ini aku takut untuk menyapa, menyapaku untuk pertama kali. Ketika sapaan berlanjut menuju perbincangan, bukankah itu terasa lebih menyenangkan? Ah, kau pun tak tau rasanya bagaimana.

Saat itu pula, perbincangan ringan kita bisa menjadi sebuah tawa kecil yang mencuat dari bibir kita.
Perbincangan ringan ini terasa semakin dalam saat kau mulai bercerita di sebuah restoran yang ada di pojokan jalan raya.
Mencoba mengerti satu sama lain. Tapi, sudah kubilang dari awal, aku manusia yang tak jelas. Bahkan diriku sendiri pun tidak mampu mengungkapkan apa yang terjadi.

Lambat laun, kau mulai bisa mengerti sedikit diriku yang aneh ini. Dan aku hampir bisa mengerti dan memaknai dirimu sebagai keindahan berwarna yang Tuhan anugerahkan untuk duniaku yang abu-abu.

Ku merindukan bagaimana kita biasa menghabiskan malam menyusuri dinginnya kota. Kau selalu melingkarkan kedua tanganmu di pinggangku, memelukku hangat dan penuh rasa manja. Karena kau sudah tau jika aku tak bisa menahan dinginnya udara malam hari. Sambil sesekali kau menggeliat di punggungku untuk menggaruk hidungmu yang katamu mancung dengan kedua tanganmu yang terasa dingin.

Ku merindukan bagaimana kita biasa menghabiskan malam dengan pertanyaan “mau makan apa nih? Makan di mana ya enaknya?”.
“Udah, jalan aja dulu. Nanti juga ketemu.” jawabanmu yang sederhana diiringi tawamu ringan memecah malam dingin.

Ya, waktu terus berputar. Semester ketiga ini sudah seperti waktu yang paling banyak menyimpan kenangan. Entah itu yang paling kusuka. Atau yang bahkan aku sendiri tak tau harus berkata apa. Semua masih terekam jelas dalam memori ini.

Akhir 2016 sudah datang. Kuingat dengan jelas bagaimana caramu pergi tanpa mengucap sepatah kata pun. Ku tak tau apa yang terjadi diantara kita. Apa salahku? Yang kuingat, rasanya perih sekali. Iya, sakit. Tak jelas bagaimana gambaran rasa sakitnya saat itu. Air mata tak mampu terbendung. Ku keluarkan semua yang ada.
Hingga saat ini, aku mulai merasakan bagaimana rasanya tidak bisa menangis.
Kau datang dan meminta maaf. Dan kau menyesalinya. Ku tak tega membiarkan air matamu meleleh. Sudahlah, kau tak pernah salah.
Dan memang yang kutahu, kau tak pernah salah. Aku yang salah telah datang ke dalam duniamu yang penuh warna. Setidaknya kita pernah saling jujur tentang perasaan masing-masing.

Memang, rasanya tak sama seperti dulu. Tapi aku selalu menyayangi dan mencintaimu dengan sangat sederhana. Tak seperti dirinya yang mampu memanjakanmu layaknya seorang maha ratu.

Maaf jika aku hanya bisa memperlakukanmu seperti seorang wanita yang spesial dalam hidupku. Bukan seperti layaknya seorang maha ratu. Hehe. Aku hanya orang sederhana.

Kuingat dengan jelas bagaimana rasanya bibir tipismu saat itu. Saat bibir kita dipertemukan dalam sebuah pagutan hangat yang mampu membuat diriku tenang. Ah, aku sangat merindukan saat-saat itu. Kali pertama di hidupku, manusia lain memelukku. Semoga saja kau juga merindukannya.

Peluk dan ciummu seperti antidepresan bagiku. Saatku sedang kehabisan ide, kau datang dengan peluk dan ciummu yang hangat. Mampu mencairkan otak beku ini.

Sudah.. sudah cukup kau bermimpinya. Hehe., maafkan aku ya. Aku memang selalu banyak bermimpi. Tapi mimpiku cukup sederhana bukan?

Kembali teringat kala ku hitung-hitung bintang. Saat mataku sulit tidur, suaramu buatku lelap.

2017 sudah tiba. Tahun baru dan harapan baru.


Semester ganjil ini akan berakhir, tapi masih ada ujian yang menantang. Ku selesaikan semua. Bodo amat!

Berat rasanya meninggalkan kota Satria ini. Dan yang paling kurindukan adalah dirimu dan semua kenangan indah di dalamnya.

Hujan deras menemani perpisahan kita di stasiun yang besar ini. Suara bising langsiran lokomotif tak kuhiraukan. Yang kuhiraukan adalah senyum manismu untuk yang terakhir kalinya kulihat. Kuingat, kau membuat sebuah gambar bergerak yang membuatku selalu tertawa dan sedih dalam satu waktu. Kuingat bagaimana berat rasanya dirimu melihatku naik ke dalam kereta dan kembali ke kota kelahiranku. Meninggalkanmu di kota rantau ini sendirian. Aku masih ingat itu!

Hari demi hari berlalu, ku selalu merindukanmu yang jauh di sana.
Kau juga mengatakan hal yang sama kepadaku. Juga kepadanya yang sangat jauh di sana.

Ingin rasanya ku menemuimu saat itu, tapi aku harus menemui Tuhan terlebih dahulu. Memenuhi panggilan-Nya.
Tak bisa ku berhenti mengucapkan doa supaya kita bisa hidup bersama kelak suatu saat. Mungkin, saat itu Tuhan belum ingin menjawab doaku. Maaf Tuhan, bukan maksud hambaMu yang hina ini untuk berprasangka buruk kepadaMu. Tapi aku juga menyadari hinanya diriku di hadapan-Mu, akan membuat doaku lambat untuk terkabul. Bahkan tidak bisa untuk Kau wujudkan. Maafkan aku Tuhan.
Ku kembali ke rumah. Merindukan rumah, dan yang jelas aku tak akan berhenti merindukanmu. Ku sengaja mengatur waktu supaya kita bisa bertemu, namun kau lebih tidak sabar. Aku tau kau juga merindukanku meski hanya sedikit. Hehe.

Hari yang telah ditentukan, ku datang dan mengucap salam ke rumahmu. Ku masih ingat dengan sangat jelas tanpa bayang-bayang sedikit pun bagaimana saat itu kau bercanda menanti kehadiranku di rumahmu. Kau mempersilahkanku masuk dengan cantiknya dirimu. Ku duduk dan ayahmu datang menghampiri sebentar dan kucium kedua tangannya. Tak kusangka ayahmu masih ingat denganku. Memang, aku pernah ke rumahmu, awal tahun. Hehe.. ku masih merindukan pertemuan itu.

Awal perbincangan kita masih kuingat. Kuingat dengan jelas candamu yang mana kau malu mengatakannya bila kau merindukanku. Ku mengerti rindumu. Kuingat dengan jelas bagaimana kau memelukku manja dan berbisik ‘Kangen banget’ di sandaranku. Ku elus rambut hitam pendek sebahumu. Sayang.. sayang.. sayang.. sembari kukecup keningmu.

Tak terasa jam menunjukkan sudah memasuki waktu makan siang. Kau gandeng tanganku menuju meja makan. Kau buat masakan sederhana dengan sambal yang sederhana pula tapi membuatku ketagihan. Haha. Oh, indahnya kesederhanaan ini.
Kuingat perbincangan kita saat makan siang saat itu. Kuingat dengan jelas.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Ku bergegas menemui Tuhan dalam sebuah bilik kecil di sudut rumahmu. Di akhir, kubisikkan doa kepada-Nya, “semoga kelak aku bisa hidup bersamanya suatu saat. Kabulkanlah doa dan permohonanku ya Allah”. Mungkin terdengar menggelikan bagimu.

Kembalinya dari menemui-Nya, kutemui lagi dirimu yang sedang duduk sembari bermain ponsel pintarmu.

Kuingat, bagaimana kau rindu padaku. Bagaimana kau menciumku dengan lembut dan kurasakan jantung yang berdegup kencang, menjadi terasa tenang. Dan kau peluk manja diriku.

Hujan yang menjadikan udara semakin dingin. Tapi candamu menghangatkanku. Sesekali kau kelitik pinggangku yang tak tahan rasa geli. Kau semakin gencar menggelitiki pinggangku. Ku kelitiki balik pinggangmu. Hehe.. kita impas.

Ku hanya ingin mengabadikan kebahagiaan kecil ini dalam ponselku. Foto kita berdua dalam sebuah bingkai kamera. Memang hanya sedikit, karena kebahagiaan cukup aku dan kau yang merasakannya hari itu.

Candaan ini membawa kita kepada waktu sore. Selagi ku menemui-Nya, kau menunggu di sofa ruang tamu sembari bermain ponsel pintarmu.
Ku kembali dari hadapan-Nya, kau kelitiki lagi pinggangku. Waktu sudah hampir magrib. Kau bergegas mandi.
Kubuka ponselku, melihat foto-foto barusan.
Harum aroma tubuhmu setelah mandi membawaku ke alam yang indah. Wangi yang sangat aku rindui. Kau datang menghampiriku dengan cantiknya. Berbalut kaus putih dan celana panjang putih. Dengan rambut pendek hitam sebahu yang masih agak basah dengan aroma sampo.

Ku genggam tanganku. Kau rasakan dingin. Kau berikan ciuman, kau tau aku sedang kedinginan. Kali ini ciumanmu lebih sering dan lebih kau nikmati. Kau sudah mengerti diriku lebih banyak.

Kau tanya kapan akan pulang ke kota Satria. “Terserah kamu” jawabku. Nanti kamu akan merindukanku jika aku pulang terlalu cepat.

Jaket hitam yang melilit tubuh ini rasanya tak mampu menghangatkan. Tapi ciumanmu yang menghangatkanku.
Kutemui lagi Tuhanku. Kali ini ku berdoa supaya bisa benar-benar hidup bersama.

Ku sudah berniat untuk kembali ke kota Satria. Namun, kau masih ingin aku untuk mengulur waktu. Kuiyakan permintaanmu.

Kau ajak aku menikmati makan malam.
Saat makan, kuingat kau memainkan kakimu untuk mencubit kakiku.
Makan malam saat itu masih diiringi canda tawa.

Kita selesaikan makan malam ini.
Kita masih bercanda saat aku sedang mencuci piring-piring yang kita pakai tadi.
Aku masih bisa merasakan ciumanmu.
Kutemui Tuhanku untuk yang terakhir kalinya di hari itu.

Ku berpamitan, kucium tangan kedua orang tuamu. Senyum merekah dari balik bibir mereka.
‘Hati-hati di jalan ya.’ Kata mereka. “Iya pak, bu. Maaf ya sudah merepotkan.” Jawabku malu.

Kuingat saat kau risau ketika ku dalam perjalanan pulang. Kau mengirim pesan yang menanyakan kabarku, apakah aku kedinginan di jalan, apa aku sudah sampai. Semua masih ada dalam ponsel ini serta memoriku.

Kau datang menemuiku. Kau datang dengan cantiknya. Meskipun lelah dan panas menerpa tubuhmu. Ku elus lembut kepalamu dan kucium keningmu. Istirahat aja dulu. Rileks.

Dan yang kuingat hari itu adalah kita bercinta. Tak ada yang kulupakan hari itu.
Percintaan ini membuat perut kita berbunyi. Hehe. Kita usaikan percintaan ini.
Kita menuju tempat makan yang pernah kita kunjungi. Kuingat sekali.
Dalam perjalanan, sesekali kau katakan rindu menyusuri jalan ini bersamaku.

Sore menjadi pemisah kita. Kau kembali ke rumahmu. Dan aku harus kembali ke rumahku. Pertemuan yang singkat juga membuatku rindu. Entah apa kau merindukannya juga. Hehe.
Ketika bayang dirimu dan harum aruma tubuhmu menyumbat kepalaku, ku tak bisa berhenti merindukanmu. Bahkan untuk 5 menit. Ku selalu mengingat itu.
Tawamu, senyummu. Mereka semua sudah menjadi sebuah bayangan yang selalu membuatku merindukanmu.

Setiap waktu engkau tersenyum, sudut matamu memancarkan rasa keresahan yang terbenam, kerinduan yang tertahan. Kemanapun aku pergi, baying-bayangmu mengejar. Bersembunyi dimanapun, selalu engkau temukan.

Bagaimana aku bisa melupakan setiap kenangan yang tercipta dengan sendirinya. Jika kutuliskan semua kenangan kita, aku yakin kau akan bosan membacanya. Karena, saat kukatakan rindu kepadamu berulang kali, kau bilang bahwa kau bosan. Ah sudahlah. Memang aku ini tipe orang yang menyebalkan. Tak pernah bisa memahamimu. Maaf ya selalu membuatmu risih.

Namun, andai saja aku mampu memahami setiap kalimat yang kau ucapkan, mungkin aku tidak akan semenyesal ini. Dan aku tidak selarut ini merindukanmu.

Kutanya pada siapa? Tak ada yang menjawab. Sebab semua peristiwa hanya di rongga dada.
Kemanapun aku pergi, selalu kubawa-bawa perasaan yang bersalah. Datang menghantuiku.
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa.

Kini kumengerti makna dari sebuah ungkapan “harapan adalah akar dari sakit hati”. Ungkapan Shakespeare memang ada benarnya. Mencintalah seperlunya saja. Jika ingin sakit hati seperlunya juga.

Dimanapun kau berada, kukirimkan terima kasih. Untuk warna dalam hidupku. Dan banyak kenangan indah. Kau melukis aku. Kita tak pernah tau, berapa lama kita diberi waktu. Jika aku pergi lebih dulu, jangan lupakan aku. Ini ungkapan terima kasihku. Tak akan ku mengenal cinta, bila bukan karena hati baikmu.

Maaf jika tulisan ini membuatmu makin membenciku. Tapi hakikatku memang untuk tak pernah dicintai. setidaknya terima kasih sudah mewarnai hari-hariku. Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya lewat tulisan ini .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi Indahku

Ada suatu waktu di mana setiap mentari terbit mengartikan sebagai hari yang cerah Namun ketika mentari pagi menyambut dengan jingga kekuningannya membuatku terbangun dari alam mimpiku Ku bersyukur pada-Nya atas hidup dan cinta serta langit keemasan untukku Kini ku berdoa semoga bintang-bintang bersinar cerah malam ini Kulihat dirimu dalam mimpiku dan mencintaiku Andai saja aku bisa terlelap malam ini setidaknya aku mampu berpura-pura kau mencintaiku Karena saat bintang-bintang bertebaran adalah saat yang membuatku bahagia Kau ada dalam mimpiku Ku tetap berharap Ketika ku terbangun dari mimpi indahku kau berbaring di sisiku menemaniku dalam mimpi indah bersamamu Dan melayangkan sebuah kecupan Kau membuatku hidup kembali -Pecinta kereta- Kota Satria, 2017

Kembali ke hakikatnya

Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku. Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri? Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. T...