Langsung ke konten utama

Postingan

Apa yang salah?

Aku masih belum paham, apa yang salah dari kita? Kamu yang terlalu egois? Kamu yang tak pernah bisa mengerti inginku? Atau kamu yang selalu abai terhadapku? Aku? Aku yang tak bisa memahami? Aku yang tak pernah bisa memenuhi semua kemauanmu? Atau aku yang terlalu sayang padamu?
Postingan terbaru

Kembali ke hakikatnya

Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku. Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri? Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. T...

Tanyalah Padaku

"Asking me if I love you is like asking me what colour is the sky” “Do you love me? BLUE” Kau tau artinya? “Kau bertanya padaku apakah aku mencintaimu sama seperti menanyakan apa warna langit” “Kau mencintaiku? BIRU” Mungkin bagi kebanyakan orang, ini hanya pertanyaan retoris; pertanyaan yang kau sudah tau jawabannya. Tapi, aku tak berpikir demikian. If you ask me “Do you love me?” I would say “BLUE” Why? Loving you is make me BLUE. But, you never understand. Ya, jika kau menanyakan apakah aku mencintaimu, jelas jawaban itu tepat. Mencintaimu membawakanku kesedihan yang tak akan kau pahami. Aku hanya berusaha mencintaimu tanpa merasakan sedih sedikit pun. Tapi nyatanya tidak. Semakin kumencintaimu, semakin terasa sakitnya. Cobalah kau temukan jawabannya.

Mimpi Indahku

Ada suatu waktu di mana setiap mentari terbit mengartikan sebagai hari yang cerah Namun ketika mentari pagi menyambut dengan jingga kekuningannya membuatku terbangun dari alam mimpiku Ku bersyukur pada-Nya atas hidup dan cinta serta langit keemasan untukku Kini ku berdoa semoga bintang-bintang bersinar cerah malam ini Kulihat dirimu dalam mimpiku dan mencintaiku Andai saja aku bisa terlelap malam ini setidaknya aku mampu berpura-pura kau mencintaiku Karena saat bintang-bintang bertebaran adalah saat yang membuatku bahagia Kau ada dalam mimpiku Ku tetap berharap Ketika ku terbangun dari mimpi indahku kau berbaring di sisiku menemaniku dalam mimpi indah bersamamu Dan melayangkan sebuah kecupan Kau membuatku hidup kembali -Pecinta kereta- Kota Satria, 2017

Masih Pedulikah?

Hai, apa kau masih ingin membaca tulisanku? Tidak ya? Cukup sudah. Kau cukupkan saja sampai sini membacanya. Karena aku tahu kau akan semakin membenciku. Kau ingat saat kau pergi tanpa mengucap sepatah kata pun? Di akhir bulan kesebelas. Apa kau masih ingat? Aku tak pernah melupakannya. Tidak sedikit pun. Ya, kau pergi tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan seonggok manusia hina tanpa makna yang masih memiliki perasaan. Tapi apa kau tahu suasana hatinya saat itu? Kau tahu perasaannya saat itu? Apa kau memikirkannya? Tidak. Kau hanya pergi begitu saja tanpa pamit. Tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Teganya. Ah tidak tega. Untuk seseorang yang tak pernah kau cintai dan sayangi, mungkin itu adalah salah dirinya sendiri. Tapi ia tak mau menyalahkanmu. Bodoh sekali kau! Sudah jelas ia menyakiti perasaan dan hatimu, masih kau bilang itu salahmu?! Dasar goblok! Perasaanmu mengalahkan akal sehatmu! Ah, memang, manusia kalau sedang jatuh cinta, gobloknya ga ketulungan. Bahkan ...

Bolehkah aku?

Bolehkah aku bercerita sedikit bagaimana rasanya mencintaimu dengan sederhana? Tidak boleh ya? Baiklah, jika kau yang meminta. Karena kutahu, kau takkan pernah menyukai tulisanku yang sangat sederhana ini. Setidaknya, semoga kau mengerti beberapa hal yang diriku sendiri tak akan paham. Hehe. Kusimpan masa demi masa. Tak mudah tuk terlupa. Awal saat kita bertemu, sudah cukup lama. Lama sekali. Tapi aku masih ingat bagaimana senyum yang terpancar dari wajahmu saat itu. Saat kali pertama kita bertegur sapa, saat kali pertama ku melihat cantiknya dirimu, semuanya masih nampak jelas dalam memoriku yang sangat terbatas ini. Saat itu, kita memang belum saling mengenal. Memang, lagipula untuk apa kau mengenal makhluk sepertiku. Tidak jelas dan tak ada apa-apanya. Penampilanku yang hina ini memang tak akan pernah membuatmu suka. Apalagi untuk sekedar membuatmu tersenyum meski sedikit. Persetan dengan semua itu. Yang jelas saat itu, aku baru percaya pada cerita Jaka Tarub dan 7 b...

Jelajah Timur Pulau Jawa

Halo.. UN udah kelar nih. Nah, artinya sekarang udah jadi pengangguran. Loh kok? Iya lah, ga ada kerjaan lagi. Daripada mati membusuk di rumah karena ga ada kerjaan, mending main keluar. Pas banget udah nyusun jadwal bareng nih bocah dua biji. Sokap lagi kalo bukan Akmal ama Helmi. Kita berencana mau ke ujung timur pulau Jawa. Buseetttt. Eits, selo coy. Ga gila kok, tapi emang pengen nyoba kesana.Langsung aja dah... Hari ke-1 Kita janjian di satasiun Tambun jam setengah enam sore. Soalnya kereta terakhir ke Jakarta berangkat jam 6. Hari pertama, kita berangkat dari stasiun Pasar Senen. Pasti naiknya kereta Progo.. Sotil deh ah. Tauan gua naik Bogowonto sih :p bosen naik yang murah mulu. Ga, canda. Karena keabisan Progo aja. Padahal, tadinya mau naik Gaya Baru. Tapi, sial ditipu babeh. Katanya H-1 aja GBM masih banyak. Biji kuda @@ udah H-6 tapi udah ludes semua. Sesampenya di Senen, kita bertiga sholat Maghrib. Abis Maghriban, kita caw ke Pasar Senen yang sebenarnya....