Hai, apa kau masih ingin membaca tulisanku?
Tidak ya? Cukup sudah. Kau cukupkan saja sampai sini membacanya.
Karena aku tahu kau akan semakin membenciku.
Kau ingat saat kau pergi tanpa mengucap sepatah kata pun? Di akhir bulan kesebelas. Apa kau masih ingat? Aku tak pernah melupakannya. Tidak sedikit pun.
Ya, kau pergi tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan seonggok manusia hina tanpa makna yang masih memiliki perasaan. Tapi apa kau tahu suasana hatinya saat itu? Kau tahu perasaannya saat itu? Apa kau memikirkannya? Tidak.
Kau hanya pergi begitu saja tanpa pamit. Tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Teganya. Ah tidak tega. Untuk seseorang yang tak pernah kau cintai dan sayangi, mungkin itu adalah salah dirinya sendiri. Tapi ia tak mau menyalahkanmu.
Bodoh sekali kau! Sudah jelas ia menyakiti perasaan dan hatimu, masih kau bilang itu salahmu?! Dasar goblok! Perasaanmu mengalahkan akal sehatmu! Ah, memang, manusia kalau sedang jatuh cinta, gobloknya ga ketulungan. Bahkan akal sehatnya pun mengatainya goblok.
Kau pergi meninggalkan orang itu. Kau tidak tahu bagaimana hatinya saat itu. Bingung. Ia kebingungan. Ia tak bisa bercerita pada siapapun. Kau tahu kepada siapa dia bercerita? Kepada Penciptanya! Dalam sujudnya ia selalu menangis. Dalam doanya ia selalu menitikkan air mata saat mengucap namamu. Ia menangis saat ia mendoakan yang terbaik untukmu.
Bantal dan guling menjadi saksi cucuran air matanya di balik selimut kecil. Sesenggukan. Kau tahu bagaimana rasanya seorang manusia yang memiliki perasaan saat menangis?
Saat kawannya menanyakan bagaimana kabarnya, dia hanya menjawab baik! Dia masih mampu tersenyum! Kawan-kawannya hanya tahu dia seorang laki-laki yang tak bisa menangis! Tapi ketika kawan-kawannya tahu dia menangis, mereka merangkulnya! Dan mereka memeluknya! Kau tidak tahu itu.
Kau tahu? Saat itu ia sudah kehilangan rasa untuk menangis. Karena apa? Kau tak tahu jawabannya. Aku tidak menyalahkanmu. Tidak pernah. Karena kau tidak pernah salah. Aku hanya memberitahumu. Karena kau tidak tahu. Mungkin juga karena kau tak mau tahu. Tak apa. Itu urusanmu. Hakmu.
Aku juga tak memaksamu untuk setiap hal.
Ia pernah berdoa pada Tuhannya semoga ia selalu diberikan kesabaran dan dilapangkan hatinya. Karena ia tahu, salah satu tahap dalam mencintai adalah memaafkan. Ia tak mau kau tahu cerita ini.
Suatu waktu kau mengirim pesan, menanyakan kabarnya. Kau tau bagaimana perasaan dia saat itu? Ia hampir tak ingin menggubrismu. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ia ingin manusia yang Ia ciptakan berhati lembut dan penuh kehangatan itu untuk senantiasa memberikan hal-hal baik. Maka ia balas pesanmu. Berkata bahwa ia baik-baik saja! Baik-baik saja! Kau tak tahu kan ketika ia hampir menangis kembali saat kau tanyakan kembali kabarnya? Tidak. Ia tidak ingin kau tahu. Tapi kini kau sudah tahu.
Kau meminta maaf. Menyesali perbuatanmu saat itu. Sambil menangis kau saat itu. Tapi kau tahu? Ia sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf.
Jika aku jadi kau, aku akan merasa bodoh. Menyia-nyiakan hati lembutnya.
Keadaan memang terlihat baik. Tapi kau tahu keadaan hatinya? Apa bisa kembali baik? Bisa kau perbaiki hatinya yang sudah kau remukkan?
Memang, ia selalu mencintai dan menyayangimu dengan sesederhana itu. Tak peduli apa yang kau perbuat padanya, ia selalu mencintaimu!
Kau ingat saat kali pertama kau memeluknya? Detak jantungnya berdegup lebih lambat. Hampir seluruh jiwanya sudah kau bawa menuju indahnya alam semesta.
Saat kau kali pertama menciumnya, kau tahu? Raganya melayang.
Mungkin kau tak akan percaya bila membacanya.
Ini adalah pelukan dan ciuman pertama dari manusia lain yang ia terima.
Memang, kau mungkin sudah pernah memberikannya pada orang lain sebelum dirinya. Jadi kau sudah terbiasa dengan rasanya. Tapi tidak dengannya.
Hari-hari kita lalui bersama seperti tak ada masalah yang pernah membuat kita saling menjauh.
Dan kini, kau kembali membuat sebuah jarak. Tapi kau tak mengatakannya. Seperti dahulu.
Kau jelaskan padaku. Ku menerimanya.
Tetap menerimanya. Meski rasanya sama seperti saat itu. Persis. Tak berbeda seperti saat kau meninggalkanku.
Padahal, ku senantiasa berdoa agar tak ada duka pada dekatnya kita dalam pelukan. Dan tak ada luka pada lekatnya bibir kita dalam ciuman.
Jika kau ingin kembali padanya, kembalilah. Semoga ceritamu dengannya, tak seperti cerita kita. Hehe. Ku doakan yang terbaik untuk kalian.
Komentar
Posting Komentar