Langsung ke konten utama

Cerita Mudik bareng Helmi


Subuh dihari Kamis tanggal 16 Agustus lalu, Gue dan keluarga menikmati santap sahur bersama. Saat itu, Gue Cuma minta dibuatkan telur dadar sebagai menu sahurnya. Dan segelas susu Milo sebagai pencuci mulut. Setelah Gue menikmati santap sahur, Gue langsung mandi. Brrrr… dingin cuy mandi subuh begitu..  Habis mandi, Gue langsung pakai baju, daripada kedinginan. Setelah berpakaian rapi, Gue langsung bawa perbekalan mudik Gue. Gue sengaja gak solat subuh di rumah, karena takut ketinggalan bis. Hihihi.. Gue sama Helmi udah sepakat ketemuan di persimpangan Bulak Kapal, Bekasi. Karena di situ, biasanya banyak bis yang ngetem. Setelah sampe di Bulak Kapal, Gue udah nemuin satu bis Mayasari Bakti dengan nomor trayek AC 52 tujuan Stasiun Tanah Abang. Maklum, kereta Gue berangkatnya dari Stasiun Tanah Abang. Kira-kira, 15 menit nunggu, datang tuh si Helmi dengan bawaannya yang super banyak -_- buset. Setelah ketemu, langsung aja kami naik ke dalem bis. Beuhh… hawanya dingin banget. Namanya juga bis AC, Toy -___- gemana sih lu.. Hehe.. maklum.. Setelah hampir 40 menit perjalanan Bekasi-Tanah Abang, sampai juga di Stasiun Kereta Api Tanah Abang. Sibuk juga ya meskipun subuh begini. Namanya juga stasiun, deket pasar pula.. Ya rame lah pastinya..

Setelah kami masuk, tiket kami masing-masing diperiksa oleh petugas boarding pass stasiun. Kok kaya di bandara sih, ada boarding pass-nya segala? Iya, itu merupakan kebijakan terbaru PT. KAI untuk mengurangi calo. Dimana tiket harus sesuai dengan identitas yang tercantum dalam tiket tersebut. Jika tidak, tidak bisa masuk. Malahan, bisa gagal mudik -__- setelah melalui boarding pass, kami turun ke lantai bawah. Karena peronnya ada di lantai bawah. Setelah duduk di peron, si Helmi naik ke lantai atas. Mau sholat subuh dulu. Berarti, Gue yang jagain barang bawaan. Selagi jagain barang, Gue ngeliat penumpang lainnya yang sama-sama ingin naik KA 134 Kutojaya Utara. Setelah sempat berbincang, baru Gue tau kalo ternyata dia juga satu tujuan dengan Gue, Purwokerto. Kan kalo si Helmi, ke Kebumen. Setelah selesai sholat, giliran Gue yang sholat dan Helmi yang jagain barang bawaan. Setelah Gue selesai sholat subuh, Gue langsung nimbrung aja pembicaraan mereka berdua. Sekitar jam 6, rangkaian KA Kutojaya Utara tersebut langsung dinyalakan. Setalah dinyalakan, kami langsung mencari tempat duduk masing-masing. Gue dapet seat 20B. Kalo si Helmi dapet seat 20A. Jadi, kami memang dapet tempat duduk yang sebaris. Ya maklum, pesennya dari tanggal 1 Juli 2012 lalu di Stasiun Bekasi. Setelah menaruh barang bawaan, kami keluar sebentar sambil melihat langsiran Lokomotif dan KRL yang melintas di Stasiun Tanah Abang. Setelah Lokomotif CC 201 73R milik dipo induk Jatinegara keluar dari dalam dipo lokomotif Tanah Abang, langsung saja lokomotif tersebut dirangkaikan kepada rangkaian KA 134 Kutojaya Utara yang akan kami naiki. Setelah proses perangkaian selesai, diadakan percobaan rem statis. Setelah semua persiapan selesai, pukul 06:50 KA Kutojaya Utara siap diberangkatkan setelah menerima Semboyan 41 dari sang PPKA Stasiun Tanah Abang. Kira-kira 15 menit dari Stasiun Tanah Abang, KA Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Manggarai. Tak lama kemudian, KA Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Jatinegara. Kira-kira pukul 06:20 KA Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Tambun. Selang sekitar 45 menit, KA Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Cikampek yang merupakan Stasiun pertemuan/perpisahan dari Daop 1 Jakarta menuju Daop 2 Bandung ataupun yang menuju Daop 3 Cirebon. KA Kutojaya Utara berpisah ke arah Daop 3 Cirebon. 

Kira-kira pukul 08:20, KA Kutojaya Utara berhenti di jalur 2 Stasiun Jatibarang. Dan kira-kira hampir 10-15 menit berhenti di Stasiun Jatibarang, KA 100 Fajar Utama Yogyakarta menyusul masuk jalur 1 Stasiun Jatibarang  yang ditarik oleh Lokomotif CC 201 43 (CC 201 83 05). Namun, hampir selama setengah jam menunggu, KA Kutojaya Utara belum juga diberangkatkan. Menurut berita, KA 147 Tegalarum menabrak sebuah mobil kecil di petak Stasiun Jatibarang-Kertasemaya. Sehingga, hanya diberlakukan 1 jalur (sepur kiri). Dari Kertasemaya-Jatibarang maupun sebaliknya. Dan katanya, KA 147 Tegalarum tersebut terpaksa harus berjalan mundur dari lokasi kejadian, menuju Stasiun Kertasemaya. Dari kejauhan, nampak KA 11 Argo Sindoro melewati sinyal masuk Stasiun Jatibarang. Setelah KA 11 Argo Sindoro melintas langsung jalur 3 Stasiun Jatibarang, maka KA 134 Kutojaya Utara dipersiapkan untuk berangkat kembali. Setelah diberangkatkan, Gue dan Helmi jadi penasaran akan kejadian tersebut. Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari Stasiun Jatibarang, banyak orang-orang berkerumun di sekitar pinggiran rel. Namun belum ada jejak dari kejadian tersebut. Baru 100 meter dari kerumunan orang-orang, ternyata ada seonggok bangkai mobil kecil tergeletak hancur di pinggir rel. Dari lokasi kejadian, barulah KA 134 Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Kertasemaya dengan KA 147 Tegalarum di jalur 3 Stasiun Kertasemaya. Bagian hidung panjangnya (Long Hood) Lokomotif KA 147 Tegalarum sedikit hancur. Barulah perjalanan kembali normal setelah melintasi Stasiun Kertasemaya. Sekitar jam 09:14, KA Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Cirebon. Sekitar 3 menit dari Stasiun Cirebon, barulah masuk KA 134 Kutojaya Utara di Stasiun Cirebon Prujakan. Disini, KA 134 Kutojaya Utara berganti masinis. Dan disini pula terdapat percabangan jalur menuju Daop 4 Semarang dan Daop 5 Purwokerto. Setelah menaikkan dan menurunkan penumpang serta berganti masinis, maka KA 134 Kutojaya Utara siap diberangkatkan kembali.

Di Stasiun Ketanggungan Barat, KA 134 bersilang dengan KA 103 Sawunggalih Utama. Dan pukul 10:52, KA 134 bersilang dengan KA 111 Bogowonto dari Yogyakarta di Stasiun Prupuk. Setelah bersilang, KA 134 Kutojaya Utara kembali berangkat. Dan pukul 11:26, KA 134 Kutojaya Utara berhenti normal di Stasiun Bumiayu. Setelah berangkat kembali, saat yang paling dinanti adalah ketika KA 134 Kutojaya Utara melintas Jembatan Sukolimolas. Karena, memotret KA diatas Jembatan Sukolimolas adalah momen yang bagus. Namun, Gue gabisa motret karena Gue lagi nge-charge HP di kereta makan -_- tapi gapapa lah. Sekitar pukul 11:46 KA 134 Kutojaya Utara melintas langsung Stasiun Kretek yang disana sudah menunggu KA 7 Argo Lawu untuk bersilang.
Pukul 12:23, KA 134 Kutojaya Utara masuk jalur 3 Stasiun Purwokerto dan di jalur 2, sudah menunggu KA 39 Taksaka dari Yogyakarta. Setelah KA 39 Taksaka berangkat Stasiun Purwokerto, KA 134 Kutojaya Utara masih menunggu di jalur 3. Namun, ternyata alasannya adalah karena Lokomotif CC 201 52 (CC 201 83 14) milik Dipo Induk Purwokerto sedang dilangsir di jalur 3 yang ternyata akan ikut dirangkaikan kepada KA 134 Kutojaya Utara. Yang berarti KA 134 Kutojaya Utara menjadi DT (Double Traksi). Karena demikian, maka cepat-cepat Gue memanggil Helmi. Gue dan Helmi pun langsung saja mengeluarkan ‘senjata’ andalan. Yap, kamera digital J langsung saja senjata kami pun ‘mengeksekusi’ kedua Lokomotif tersebut.
Hehe..
Awalnya Gue sempet kesel karena si Helmi bisa merasakan KA 134 Kutojaya Utara dengan traksi ganda -___- sialan.. Setelah KA 134 Kutojaya Utara berangkat Stasiun Purwokerto, akhirnya Gue menunggu Om Gue. Katanya, dia mau menjemput Gue. Barulah pukul 12:43 Om Gue dateng. Dan Gue meninggalkan Stasiun Purwokerto menuju rumah Om Gue J
Itulah kisah mudik tanggal 16 Agustus 2012 hehehe...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah aku?

Bolehkah aku bercerita sedikit bagaimana rasanya mencintaimu dengan sederhana? Tidak boleh ya? Baiklah, jika kau yang meminta. Karena kutahu, kau takkan pernah menyukai tulisanku yang sangat sederhana ini. Setidaknya, semoga kau mengerti beberapa hal yang diriku sendiri tak akan paham. Hehe. Kusimpan masa demi masa. Tak mudah tuk terlupa. Awal saat kita bertemu, sudah cukup lama. Lama sekali. Tapi aku masih ingat bagaimana senyum yang terpancar dari wajahmu saat itu. Saat kali pertama kita bertegur sapa, saat kali pertama ku melihat cantiknya dirimu, semuanya masih nampak jelas dalam memoriku yang sangat terbatas ini. Saat itu, kita memang belum saling mengenal. Memang, lagipula untuk apa kau mengenal makhluk sepertiku. Tidak jelas dan tak ada apa-apanya. Penampilanku yang hina ini memang tak akan pernah membuatmu suka. Apalagi untuk sekedar membuatmu tersenyum meski sedikit. Persetan dengan semua itu. Yang jelas saat itu, aku baru percaya pada cerita Jaka Tarub dan 7 b...

Mimpi Indahku

Ada suatu waktu di mana setiap mentari terbit mengartikan sebagai hari yang cerah Namun ketika mentari pagi menyambut dengan jingga kekuningannya membuatku terbangun dari alam mimpiku Ku bersyukur pada-Nya atas hidup dan cinta serta langit keemasan untukku Kini ku berdoa semoga bintang-bintang bersinar cerah malam ini Kulihat dirimu dalam mimpiku dan mencintaiku Andai saja aku bisa terlelap malam ini setidaknya aku mampu berpura-pura kau mencintaiku Karena saat bintang-bintang bertebaran adalah saat yang membuatku bahagia Kau ada dalam mimpiku Ku tetap berharap Ketika ku terbangun dari mimpi indahku kau berbaring di sisiku menemaniku dalam mimpi indah bersamamu Dan melayangkan sebuah kecupan Kau membuatku hidup kembali -Pecinta kereta- Kota Satria, 2017

Kembali ke hakikatnya

Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku. Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri? Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. T...