Langsung ke konten utama

Pertanyaan yang selalu sama

“Toy, kenapa sih lu kok suka banget ama kereta?”
Kayanya kuping gue ga akan asing sama pertanyaan macem itu -_- kenapa? Ya udah sering ditanya begitu. Mulai dari jaman kelas 8 SMP sampe sekarang, kelas 11 SMA -_- sebenernya gue ga suka sama kereta. Gue cowo normal yang masih suka sama cewek kok :’) gue sebenernya seneng sama kereta dari jaman gue masih bocah ingusan. Iya, jaman masih kecil. Jaman gue masih TK. Entah kenapa gue seneng banget sama kereta. Entah apa yang menyebabkan gue seneng sama kereta. Apa karena gue masih kecil, jadi wajar kalo seneng sama kereta? Tapi, sebenernya gue ga cuma seneng sama kereta kok. Gue juga seneng ama pesawat, bus bahkan truk. Entah gue ini anak macem apa sih -_- semua kok disenengin.
Setiap pertanyaan itu dilontarkan, gue akan menjawab dengan santai: Sebenernya, karena ada sesuatu yang menarik aja. Jadinya, gue seneng aja. Atau jangan-jangan karena nama belakang gue adalah KA? Hasto Kuncoro Adi disingkat jadi Hasto KA; Hasto Kereta Api. Karena itu juga, guru gue pun disekolah sering mlesetin nama gue kalo lagi bagiin buku tulis. “Hasto KA! Ini Hasto Kereta Api ya?”sahut guru gue “Bukan, Bu” sambil cengengesan. Ya begitulah nama gue. Dan itu juga yang menyebabkan gue selalu menulis KA di setiap penulisan nama. Baik itu di buku pelajaran, absen, bahkan sampe penulisan di tiket Kereta Api. Ya karena gue juga seneng sih nulis nama KA.
Gue kadang juga sering diidentikkan sama orang yang paham betul sama Kereta Api. Sampe-sampe kalo ada yang nanyain sesuatu tentang kereta, jadi nanya ke gue. Seolah-olah gue paham betul akan kereta api. Gajuga kok. Gue ini masih memperdalam ilmu kereta api. Hehehe.. Malahan, ada yang kalo abis pergi naik kereta, cerita pengalamannya di kereta. Bahkan, protes sama pelayanannya ke gue. Tapi, kenapa jadi gue yang diomelin -_-

Tapi, dari semua hal itu yang menyebabkan gue jadi semakin seneng sama kereta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah aku?

Bolehkah aku bercerita sedikit bagaimana rasanya mencintaimu dengan sederhana? Tidak boleh ya? Baiklah, jika kau yang meminta. Karena kutahu, kau takkan pernah menyukai tulisanku yang sangat sederhana ini. Setidaknya, semoga kau mengerti beberapa hal yang diriku sendiri tak akan paham. Hehe. Kusimpan masa demi masa. Tak mudah tuk terlupa. Awal saat kita bertemu, sudah cukup lama. Lama sekali. Tapi aku masih ingat bagaimana senyum yang terpancar dari wajahmu saat itu. Saat kali pertama kita bertegur sapa, saat kali pertama ku melihat cantiknya dirimu, semuanya masih nampak jelas dalam memoriku yang sangat terbatas ini. Saat itu, kita memang belum saling mengenal. Memang, lagipula untuk apa kau mengenal makhluk sepertiku. Tidak jelas dan tak ada apa-apanya. Penampilanku yang hina ini memang tak akan pernah membuatmu suka. Apalagi untuk sekedar membuatmu tersenyum meski sedikit. Persetan dengan semua itu. Yang jelas saat itu, aku baru percaya pada cerita Jaka Tarub dan 7 b...

Mimpi Indahku

Ada suatu waktu di mana setiap mentari terbit mengartikan sebagai hari yang cerah Namun ketika mentari pagi menyambut dengan jingga kekuningannya membuatku terbangun dari alam mimpiku Ku bersyukur pada-Nya atas hidup dan cinta serta langit keemasan untukku Kini ku berdoa semoga bintang-bintang bersinar cerah malam ini Kulihat dirimu dalam mimpiku dan mencintaiku Andai saja aku bisa terlelap malam ini setidaknya aku mampu berpura-pura kau mencintaiku Karena saat bintang-bintang bertebaran adalah saat yang membuatku bahagia Kau ada dalam mimpiku Ku tetap berharap Ketika ku terbangun dari mimpi indahku kau berbaring di sisiku menemaniku dalam mimpi indah bersamamu Dan melayangkan sebuah kecupan Kau membuatku hidup kembali -Pecinta kereta- Kota Satria, 2017

Kembali ke hakikatnya

Idul Fitri, hari yang paling dinanti setiap orang setelah puasa. Begitu pun aku. Selalu menanti datangnya hari ini. Dimana setiap orang bisa merasakan nikmatnya makan dan minum di siang hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Namun, bagi sebagian orang Idul Fitri bukan selalu menjadi hal yang dinanti. Bagi sebagian mereka, Idul Fitri adalah waktu yang menyedihkan. Mereka takut apabila tak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Begitu pula diriku. Namun, setiap hari bagiku adalah hari biasa. Tak ada yang spesial. Semua sama rasanya. Tak ada hari-hari yang lebih wow dari biasanya. Bahkan di hari yang menurut setiap orang adalah spesial, hari ulang tahun. Bagiku semua sama saja. Karena tahun-tahun berlalu rasanya masih sama saja. Tak pernah ada bedanya. Semua dilalui dengan perasaan sepi dalam diri. Memang, di luar tampak ramai, tapi apa tahu apa yang dirasa dalam diri? Idul Fitri tahun ini pula aku hanya berharap datang sebuah keajaiban, keajaiban yang hanya aku yang tahu. T...